shutterstock_663786574

10 Upacara Tradisional Unik di Semarang

Kota Semarang merupakan ibukota dari Propinsi Jawa Tengah. Kota Semarang dikenal sebagai salah satu kota yang ramai akan penduduknya.

Di Kota Semarang sendiri juga bisa ditemukan aneka macam upacara tradisional yang unik dan khas yang sering dilakukan oleh warganya.

Rangkaian upacara tradisional ini merupakan sebuah warisan budaya yang mereka pegang teguh dan jaga dengan baik keberadaannya.

Yuk kita simak bersama rangkaian nama upacara tradisional unik yang ada di wilayah Semarang!

10 Upacara Tradisional Unik di Semarang

Berikut ini merupakan daftar dari 10 upacara tradisional yang unik yang terdapat di wilayah Semarang. Upacara – upacara apa sajakah itu?

Yuk kita intip jawabannya melalui penjelasan informasi yang tertera di bawah ini! Mari kita simak bersama uraiannya! Cekidot!

1. Dugderan

Dugderan adalah upacara tradisional yang dilakukan oleh warga Kota Semarang dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Dugderan ini diawali dengan pemukulan beduk yang berbunyi dug dug dug, lalu disambut dengan suara dentuman meriam der sehingga masyarakat setempat menamakannya dengan nama Dugderan.

Setelah prosesi Dugderan selesai digelar pawai keliling kota dimana masyarakat tumpah ruah berpakaian adat dan menyajikan aneka festival tradisonal khas Semarang yang ditujukan untuk menyambut datangnya bulan puasa yaitu Bulan Ramadhan di Kota Semarang.

2. Siraman

Tradisi Siraman merupakan upacara adat khas Semarang dimana calon pengantin perempuan harus dimandikan dan disucikan dengan air bunga 7 rupa.

Siraman dilakukan dengan cara menguyurkan dan memandikan calon pengantin perempuan agar dirinya bisa suci sebelum prosesi pernikahan digelar.

Setelah Siraman selesai biasanya calon pengantin perempuan akan dibopong oleh ayahnya atau keluarganya guna dirias untuk acara sungkeman meminta doa restu kepada pihak ayah dan ibunya agar pernikahannya bisa lancar dan berkah.

3. Nyadran

Tradisi Nyadran adalah prosesi adat khas Kota Semarang yang sering dilakukan oleh warganya dengan cara berkumpul dan membersihkan kuburan desa secara bersama – sama.

Nyadran ini dilakukan pada saat bulan Ruwah tiba.

Setelah kuburan selesai dibersihkan, biasanya akan diadakan upacara makan bersama karena mereka telah selesai membersihkan kuburan desa secara bersama – sama.

Nyadran ini juga dilakukan secara personal di kalangan masyarakat Jawa biasanya mereka pergi ke kuburan keluarga mereka yang lebih tua untuk membersihkan dan mendoakan mereka pada saat bulan Ruwah tiba.

4. Popokan

Popokan merupakan upacara tradisi melempar lumpur yang dilakukan oelh warga Beringin di Semarang. Popokan sendiri dilakukan pada saat bulan Agustus di hari Jum’at Kliwon.

Asal usul tradisi ini berawal dari dahulu di daerah Beringin didatangi seekor macan yang mengganggu dan mengancam warga desa, sehingga segala macam peralatan digunakan untuk mengusirnya termasuk dengan melempar lumpur.

Berawal dari situlah upacara Popokan ini dilakukan dimana upacara Popokan ini bertujuan untuk menghilangkan kejahatan dan tolak bala di daerah mereka.

Upacara Popokan ini masih terjaga dengan baik hingga sekarang.

5. Magengan

Magengan adalah upacara khas Semarang yang dilakukan oleh warganya sebelum datangnya Bulan Ramadhan.

Sebelum menyambut datangnya Bulan Ramadhan ini, masyarakat harus membersihkan jiwa dan raganya dimana inti acara dari Magengan ini nantinya adalah makan bersama syukuran dan membagi – bagikan kue apem sebagai wujud syukur mereka karena nantinya mereka dipertemukan dengan Bulan Ramadhan yang merupakan bulan suci bagi umat Islam di Kota Semarang.

Tradisi Magengan ini merupakan peninggalan dari Sunan Kalijaga yang dahulu merupakan sosok penyebar Agama Islam di tanah Jawa.

6. Mantenan

Mantenan adalah upacara tradisional khas masyarakat Jawa yang juga ada di Kota Semarang.

Mantenan ini adalah proses pernikahan dimana kedua pengantin baik pria maupun wanita wajib melakukan ijab kabul dan nantinya akan dilanjutkan dengan sebuah pesta pernikahan guna merayakan kebahagiaan mereka karena telah resmi menikah.

Dalam Mantenan ini dikenal beberapa adat khas Jawa mulai dari saling memberikan makan dan minum antara pihak pengantin, dipertemukannya pengantin pria dengan perempuan, hingga acara sungkeman dari pihak pegantin kepada orang tua dan mertuanya.

7. Tahlilan

Tahlilan adalah prosesi pengiriman doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar pihak yang meninggal diberikan pengampunan dan tempat terbaik di sisi-Nya.

Tahlilan dilakukan dengan mengundang para tetangga dan sanak famili dimana mereka semua akan dipimpin oleh pemuka agama setempat untuk membaca surat Yasin, dzikir, dan doa yang ditujukan kepada Tuhan agar memberikan ampunan dosa dan tempat terbaik bagi pihak yang meninggal.

Dalam acara Tahlilan ini biasanya dilanjutkan dengan acara makan bersama sebagai jamuan kepada para sanak famili dan tetangga yang sudah datang.

8. Sunatan

Tradisi Sunatan juga merupakan tradisi yang dikenal di Semarang. Sunatan sendiri memang ditujukan untuk membersihkan alat kelamin anak laki – laki yang sudah beranjak dewasa.

Sunatan sendiri merupakan simbol bahwa si anak sudah beranjak dewasa atau sudah akil baligh. Sunatan merupakan ajaran Agama Islam dimana alat kelamin si anak laki – laki wajib dibersihkan dan disucikan.

Setelah acara pembersihan alat kelamin anak laki – laki oleh juru sunat, biasanya masyarakat Semarang melanjutkannya dengan sebuah acara hajatan yang dihadiri oleh famili, tetangga, dan tamu undangan guna merayakan acara Sunatan anak lelakinya.

9. Padusan

Tradisi Padusan juga dikenal oleh masyarakat Semarang.

Padusan ini ditujukan untuk menyambut Bulan Ramadhan yang dikenal sebagai bulan suci bagi umat Islam setempat.

Padusan sendiri berasal dari kata Adus yang berarti mandi dan membersihkan diri.

Padusan dilakukan dengan mandi bersama dimana warga akan mandi sekaligus mensucikan diri baik jiwa dan raga guna menyambut datangnya bulan Ramadhan dalam kehidupan mereka yang mereka jalani.

Padusan ini merupakan salah satu peninggalan budaya Walisongo ketika mereka menyebarkan ajaran Islam dengan mengkawinkan dengan budaya Jawa yang kala itu didominasi oleh budaya Hindu.

10. Aqiqah

Aqiqah adalah sebuah ajaran Islam yang juga dikenal oleh warga Kota Semarang terutama yang beragama Islam.

Tradisi Aqiqah ini dilakukan untuk menebus jiwa sang anak dimana nantinya si anak akan disembelihkan kambing (1 ekor kambing jika untuk anak perempuan dan 2 ekor kambing untuk anak laki – laki).

Nantinya pada proses Aqiqah ini si anak akan didoakan dan diberikan nama agar kedepannya bisa menjadi anak yang shaleh dan shalehah.

Aqiqah biasanya di Kota Semarang dilakukan dengan mengundang pemuka agama, pemuka adat, famili, tetangga serta tamu undangan dimana selain membagikan masakan daging kambing, biasanya mereka juga akan merayakannya dengan makan bersama.

Itulah daftar dari 10 upacara tradisional yang unik khas Kota Semarang.

Upacara – upacara tradisional diatas merupakan upacara tradisional yang bisa kita temukan di wilayah Kota Semarang.

Sebuah informasi yang menarik tentunya bagi kalian semua. Semoga kalian mendapatkan tambahan wawasan pengetahuan dari adat istiadat warga Kota Semarang diatas. Semoga terpuaskan! Salam.

Lihat Juga

10 pasar tradisional di Kota Medan
10 Upacara Tradisional Unik di Bekasi
10 Upacara Tradisional Unik di Bandung

Keyword

Writer